Oleh: Julen Julita Afloubun, Sekretaris Cabang GMNI Jakarta Pusat
Diksie.id, Jakarta – Organisasi mahasiswa seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia pada hakikatnya dibangun sebagai ruang kaderisasi arena dialektika tempat gagasan, nilai, dan integritas dipertemukan untuk melahirkan generasi yang berpikir kritis dan bertindak progresif. Namun dalam praktiknya, tidak jarang organisasi justru mengalami deviasi dari tujuan awal tersebut.
Ketika senioritas tidak lagi dimaknai sebagai tanggung jawab moral untuk membimbing, melainkan berubah menjadi legitimasi untuk mengendalikan, maka yang terjadi adalah pergeseran fundamental dalam tubuh organisasi: dari ruang pembelajaran menjadi arena kekuasaan. Intervensi yang berlebihan yang kerap dibungkus dengan dalih “pembinaan” pada dasarnya berpotensi melumpuhkan kemandirian kader dan mereduksi daya kritis mereka.
Lebih jauh, ketika organisasi mulai diperlakukan sebagai “lahan”, nilai-nilai ideologis perlahan tergerus. Kader tidak lagi diposisikan sebagai subjek perjuangan, melainkan sekadar alat reproduksi kepentingan. Pada titik ini, kaderisasi kehilangan maknanya yang terjadi bukan lagi proses pembentukan, melainkan distorsi.
Momentum Konferensi Cabang GMNI Jakarta Pusat yang ke IV ini tidak boleh direduksi menjadi sekadar formalitas organisatoris atau arena kompromi elit. Forum ini harus menjadi ruang refleksi, koreksi, bahkan perlawanan terhadap praktik-praktik intervensi yang mencederai nilai-nilai organisasi. Sudah saatnya kader berani menegaskan: organisasi ini bukan milik segelintir orang. Organisasi ini adalah milik perjuangan bersama.
Konferensi cabang harus melahirkan kepemimpinan baru yang independen, berani berdiri tanpa bayang-bayang, tidak tunduk pada tekanan, serta menjadikan nilai sebagai kompas utama bukan kepentingan sebagai arah. Jika tidak, maka kita hanya akan terus mengulang siklus yang sama: organisasi yang besar secara struktur, namun kehilangan jiwa perjuangannya.











